Friday, September 3, 2010

Demi Jilbab

Florinda Zeka telah bertekad. "Jika mereka meminta saya menanggalkan jilbab, saya tidak akan melakukannya," ujuarnya. Gadis berusia 17 tahun ini sejak Maret lalu terpaksa harus meninggalkan sekolah kerana berjilbab. Ia tertimpa dampak kebijakan Pemerintah Kosovo yang melarang penggunaan jilbab di sekolah-sekolah umum.

Dengan kebijakan itu, Zeka yang tinggal di penggiran kota wilayah Kosovo Tengah ini terpaksa untuk memilih. Dan ia telah menjatuhkan pilihannya, meninggalkan sekolah. " sebab, bagi saya jilbab lebih penting dibandingkan sekolah. Jilbab hal paling berharga di dalam kehidupan saya," katanya seperti yang dikutip BBC, Selasa (24/8) Florinda Zeka (BBC)

Kini, otoritas lokal edang mempertimbangkan keputusan apakah akan mengizinkan Zeka kembali ke kelas atau tidak, setelah liburan musim panas ini. Ia mengungkapkan kesedihannya atas munculnya larangan jilbab. Ia pun merasakan diskriminasi. Sebab, ia memiliki hak seperti orang lain, bersekolah.

Ia benar-benar rindu kembali ke sekolah, tentu dengan penutup auratnya. Kosovo, yang secara unilateral mendeklarasikan kemerdekaanya dari Serbia pada 2008 silam, menetapkan larangan jilbab di sekolah umum pada akhir tahun lalu. Langkah ini dianggap pemerintas sesuai dengan konstitusi yang menyatakan Kosovo negara sekuler. Namun, sejumlah kalangan meyakini motif sebenarnya adalah keinginan pemerintah agar Kosovo seperti negara Barat. Yang menegaskan bahawa mereka benar-benar menganut nilai-nilai Eropa. Dengan harapan, Kosovo secara mudah bida bergabung dalam Uni Eropa. Langkah yang hampir sama dilakukan Turki.

Di sisi lain, mereka menunjukkan satu fakta lainnya. Untuk mencapai tujuannya, pemerintah mendorong pembangungan katedral Katolik besar yang kini masih berlangsung. Lokasinya di ibu kota Pristina. Sedangkan Muslim, yang jumlahnya lebih dari 90 persen dari populasi, terpaksa harus shalat hingga trotoar.

Hal ini terjadi karena sempitnya masjid-masjid yang ada di kota tersebut. Deputi Menteri Luar Negeri Vlora Citaku, menyampaikan dallih pemerintah soal pelarangan busana Muslimah. "Jilbab di Kosovo bukan elemen dalam identitas kami. Jilbab merupatan petanda penyerahan diri perempuan kepada laki-laki," katanya.

Menurut dia, tak mungkin seorang gadis yang berusia 16 tahun atau 17 tahun mampu membuat keputusan secara sadar untuk memakai jilbab. Ia mengatakan, pelarangan tak akan diberlakukan di universitas. Pemerintah, kata dia, mempertimbangkan soal kedewasaan terkait jilbab.

Secara umum, jelas dia, ada persepsi bahawa setelah berumur 18 tahun ke atas seseorang mampu membuat keputusan secara mandiri. Dengan demikian, perempuan itu melakukan sesuatu bukan karena dorongan atau paksaan diluar dirinya. Ia menegaskan, banyak orang yang mendukung larangan jilbab di sekolah-sekolah umum.

Menurut dia, daropada memberikan fokus pada kelompok marginal lebih baik perhatian diberikan kepada mereka yang mayoritas. Banyak orang tua menyampaikan rasa khawatir tentang anaknya yang mengenakan jilbab. Pada Juni lalu, keputusan pemerintah ini memicu unjuk rasa 5,000 orang di Pristina.

Para pemimpin Muslim menegaskan, mereka akan mengadukan pemerintahnya ke Pengadilan HAM Eropa jika keputusan pelarangan jilbab itu tidak dihapuskan. Besa Ismaili, salah seorang yang menentang pelarangan penggunaan jilbab di sekolah umum, menyatakan kebijakan itu mempengaruhi dukungan publik terhadap Pemerintahan Kosovo. (irf/Ferry Kisihandi/RoL)

Sumber berita: Dakwatuna.com (dr Indonesia - yang tak faham tu boleh tanya saya maksudnya)

__________________________________________________________________________

Subahanallah..subahanallah..subahanallah.. kagum saya dengan pendirian muslimah yang bernama Zeka ini. Saya yakin dengan iman kuat tertanam di dalam dirinya serta kefahaman yang jelas kenapa dia perlu berjilbab yang mendorong dia untuk membuat keputusan yang begitu. Dia lebih memilih untuk dipandang Allah berbanding dengan manusia.. Subahanallah.. Kalau kita berada di situasi dia, mampukah kita berbuat keputusan sebegitu yang mendapat tekanan dari penguasa tempatan itu sendiri.

Bagi saya ibu bapa perlu menanamkan kesedaran dan kefahaman kepada anak-anak sedari kecil tentang kewajipan seorang muslimah untuk memakai tudung dengan standard yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. Mulanya pasti dia akan merungut lama-lama insyaAllah dia akan faham kenapa dia perlu berbuat begitu..

Memakai jilbab/tudung atau apa sahaja namanya adalah perintah dari Allah bukan arahan dari ibu bapa. Firman Allah yang bermaksud:

" Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya, Dan hendaklah mereka mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya..." (QS An-Nur:31)

Perintah dari Allah itu kewajipan yang kita wajib laksanakan sama ada suka atau tidak, merasa berat atau ringan.. Salurkanlah dengan kefahaman..

Pengalaman saya sendiri, bermula dari saya pakai tudung bukan dengan dasar kefahaman dan apabila saya semakin membesar dan semakin merasai nikmatnya memakai tudung itu. Subahanallah. Hanya Allah sahaja yang mengetahui. Saya dikira bertuah kerana ada orang tua yang mengingatkan. Berbanding dengan pengalaman seorang kakak yang saya kenali, dia mencari erti Islam itu sangat lama dan panjang. Dia bercerita umur 27 tahun baru dia memakai tudung secara sempurna. Menangis saya mendengar kisahnya..

Memakai tudung/berjilbab itu merupakan perintah Allah. Tiada pilihan, kewajipan itu wajib kita laksanakan. Walaupun terasa berat pada mulanya insyaAllah lama-lama kita akan merasa bahawa betapa indahnya bertudung itu. insyaAllah..

0 comments:

Post a Comment